Nestapa Pengungsi Palestina di Kamp Ain Halwa Libanon


Beirut – Penderitaan berkali lipat dialami para pengungsi Palestina di kamp pengungsi Ain Halwa di Libanon, akibat berbagai prosedur dan kompleksitas yang diberlakukan terhadap mereka, ditambah kesempitan hidup dan tekanan yang terus menerus.

Warga kamp pengungsi Ain Halwa yang jumlahnya mencapai lebih 80 ribu jiwa mengeluhkan prosedur ketat yang diberlakukan militer Libanon pada gerbang-gerbang kamp pengungsi.

Warga kamp, Abu Shaleh, mengatakan bahwa dirinya keluar pagi-pagi buta dari kamp ke pasar ikan di Shaida untuk membeli barang dari sana kemudian kembali untuk dijual di dalam kamp Ain Halwa.

Dengan sangat sedih pengungsi Palestina ini mengatakan, “Saya keluar dari pagi untuk berbaris seperti pengungsi lainnya dalam antrean panjang mobil sampai giliran kami masuk dalam pemeriksaan, dan saat sudah melewati pemeriksaan adalah tahap di mana penderitaan, penindasan dan penghinaan telah berakhir."

Dia menambahkan, “Ketika saya kembali, pemandangan yang sama kembali terjadi, saya harus berada dalam antrian panjang, jauh lebih panjang dari pada antrian pagi.” Dia mengungkapkan, sedih dengan barang-barangnya yang banyak rusak karena lama menunggu dalam antrian di pos pemeriksaan.

Pengungsi Palestina Abu Husain menyebut bahwa apa yang dialami para pengungsi Palestina di kamp pengungsi Ain Halwa adalah perlakuan “yang tidak manusiawi”, yang membutuhkan perhatian semua pihak. “Jika memang di dalam kamp pengungsi ada 50 atau 100 buron, lantas kenapa yang dihukum lebih dari 80 ribu pengungsi yang tinggal di dalam kamp ini,” imbuhnya.

Lembaga HAM Palestina “Syahid” mengatakan bahwa pihaknya sangat prihatin dengan langkah-langkah dan prosedur keamanan ketat yang diberlakukan militer Libanon terhadap kamp pengungsi Palestina Ain Halwa di selatan Libanon dalam dua pekan terakhir.

“Syahid” menegaskan telah menerima puluhan seruan yang meminta agar pihaknya turun tangan menyampaikan kepada pemerintah Libanon dan pimpinan militer agar melakukan langkah-langkah keamanan yang manusiawi pada gerbang-gerbang kamp pengungsi Ain Halwa yang dihuni oleh lebih 80 ribu pengungsi Palestina.

Langkah-langkah dan prosedur keamanan yang sangat ketat ini sangat berdampak kepada kehidupan warga pengungsi kamp, karena untuk proses mauh dan keluar menggunakan kendaraan membutuhkan waktu satu jam. Hal ini jelas sangat berdampak pada kehidupan penduduk, khususnya pada pelajar, pekerja dan pasien.

Lembaga HAM Palestina ini mengatakan bahwa langkah-langkah keamanan sangat ketat yang diberlakukan militer Libanon pada kamp pengungsi Ain Halwa ini menambah rangkaian lain dari proses pemarjinalan yang dilami para pengungsi Palestina di Libanon, terutama hak mereka untuk bekerja dan hak memiliki serta hak dalam tempat tinggal yang layak serta peluasan area kamp pengungsi.

Lembaga HAM ini menunjukkan keherannya atas langkah-langkah dan prosedur keamanan ketat yang diberlakukan militer Libanon, meski sudah ada kerjaama besar di tingkat Palestina antara kekuatan-kekuatan politik dan keamanan di satu sisi dengan pihak-pihak keamanan Libanon di pihak lain, terutama militer Libanon terkait dengan masalah para buron dan pengendalian situasi keamanan.

“Syahid” menyatakan pihaknya sudah menyerukan dalam banyak kesempatan kepada pihak-pihak keamanan Libanon untuk melakukan langkah-langkah dan prosedur keamanan yang manusiawi dan mencari pendekatan HAM yang memperhatikan antara HAM dan tuntutan keamanan. “Syahid” juga menyerukan kepada semua lembaga dan institusi negara Libanon untuk memperlakukan manusian Palestina dari sisi kemanusiaan dan bukan dari sisi keamanan.



Sumber : https://melayu.palinfo.com/

Komentar

Postingan Populer

Berita

Wawasan

Kegiatan