Tembok Pemisah Rasial dan Penggerogotan Tanah Terus-menerus



Ramallah – Otoritas penjajah Zionis pada hari Senin (21/08/2017) menyetujui rencana melanjutkan pembangunan tembok pemisah rasial Zionis dekat kota Ramallah. Di saat yang sama otoritas penjajah Zionis sudah mulai membangun potongan-potongan tembok pemisah tersebut di dekat Jenin.

Radio Zionis menyebutkan bahwa Menteri Keamanan Zionis Avigdor Lieberman telah menyetujui rencana melanjutkan pembangunan tembok pemisah rasial Zionis di sekitar permukiman Yahudi Bet El di timur laut kota Ramallah, sebagai langkah yang menurutnya akan memperkuat pertahanan permukiman Yahudi Bet El dan menghadang upaya-upaya aksi yang akan dilakukan kelompok perlawanan di sana.

Lieberman mengatakan bahwa kementriannya telah mengalokasikan dana 1,3 juta dolar untuk membangun tembok pemisah rasial di daerah Murihan di barat permukiman Yahudi dekat kamp pengungsi Palestina Jalzun di utara Ramallah, wilayah tengah Tepi Barat, yang disebutnya sebagai “sumber serangan berulang-ulang” ke Bet El.

Dalam konteks yang sama, pasukan penjajah Zionis mengisolasi area tanah warga di daerah selatan Jenin, wilayah utara Tepi Barat, dengan tembok kawat berduri di sepanjang jalan antara Murihah, Yabud dan pos militer Zionis.

Kepada koresponden Pusat Informasi Palestina, sumber-sumber Palestina mengatakan bahwa tembok yang dibangun sepanjang 300 meter sepanjang jalan antara Murihah dan Yabud ini berarti semakin menggerogoti tanah wilayah tersebut dan mengisolasinya di belakang tembok.

Sumber Palestina menyatakan bahwa pembangunan tembok ini merupakan kelanjutan dari langkah-langkah sebelumnya yang telah diambil pasukan penjajah Zionis beberapa bulan yang lalu dengan menguasai ratusan hektar tanah Yabud, dengan dalih untuk memberikan perlindungan kepada permukiman Yahudi Mabo Dotan yang berdiri di atas tanah desa tersebut.

Penjajah Zionis mulai membangun tembok pemisah di Tepi Barat pada tahun 2002, di masa pemerintahan Ariel Sharon. Alasannya adalah untuk mencegah aksi serangan Palestina terhadap Israel dan orang-orang Palestina menyebutnya sebagai tembok pemisah rasial.

Menurut perkiraan resmi, luas wilayah Palestina yang terisolasi dan terblokir di antara tembok pemisah rasial dan wilayah Palestina terjajah tahun 1948 mencapai sekitar 680 kilometer persegi pada tahun 2012, atau mencaplok sekitar 12% luas tanah Tepi Barat.

Pada tahun 2004 Mahkamah Internasional yang berada di bawah PBB mengambil keputusan konsultatif yang mengecam dan mengkiminalkan tembok pencaplokan ekspansi ini. Mahkamah juga menilai permukiman Yahudi secara keseluruhan adalah ilegal dan bertentangan dengan hukum dan legalitas internasional.



Sumber : https://melayu.palinfo.com/5609

@Copyright Pusat Informasi Palestina, All right reserved

Komentar

Postingan Populer

Berita

Wawasan

Kegiatan