Menyeru Perdamaian Dunia : Kiprah Indonesia Terhadap Impian Palestina



Dalam suatu negara tidak dapat berdiri sendiri. Layaknya individu sebagai makhluk sosial, negara tentu akan memerlukan negara atau komponen yang lain. Bahkan ada pula negara yang memilki keterkaitan serta ketergantungan dalam aspek ekonomi, sosial, dan politik. Jika adanya keterikatan antar negara yang satu dengan negara lain tersebut tentunya adalah sebuah hubungan yang baik. Salah satunya negara kita sendiri yaitu Indonesia dengan negara-negara lain. Dinamakan masyarakat global karena ditandai adanya saling ketergantungan antar bangsa, adanya persaingan ketat dalam satu kompetisi dan dunia cenderung berkembang kearah perebutan pengaruh antar bangsa, baik lingkup nasional ataupun lingkup global.


Namun masih banyak hubungan yang bertentangan antara negara satu dengan negara yang lain. Yang mengakibatkan terjadinya konflik dan terusiknya perdamaian dunia. Konflik biasanya dipicu dengan masalah dalam hal ekonomi, sosial, politik, agama maupun kebudayaan. Terjadinya konflik akibat adanya keserakahan, kurang saling menghargai dan mengerti antar satu dengan yang lain. Kenyataan yang saat ini terjadi adalah konflik berkepanjangan antara Palestina dan Israel. Fakta membuktikan Israel adalah negara yang dikenal kerap memicu konflik di Timur Tengah yang akhir-akhir ini kembali memanas dengan tindakan brutal dan kesewenang-wenangan tentara Israel terhadap warga Palestina. Hal ini menjadi bukti bahwa sikap Israel atas Palestina sangat bententangan dengan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.



Hubungan Indonesia dan Palestina

Palestina adalah salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia serta memberikan pengakuan terhadap negara Indonesia yang selanjutnya disusul oleh Mesir (khususnya di inisiasi oleh gerakan Ikhwanul Muslimin). Sebagai timbal balik atas hutang kemanusiaan, sejak era Presiden Soekarno, Indonesia telah mengakui kemerdekaan Palestina dari penjajahan Israel. Pada saat Konferensi Asia-Afrika (KAA) tahun 1953, Indonesia dan Pakistan tegas menolak Israel bergabung dalam KAA. Menurut Soekarno, Israel adalah imperealis yang harus dimusnahkan oleh seluruh pemimpin-pemimpin negara dunia ketiga. 

Dalam buku yang berjudul Revolusi Belum Selesai tertulis “Imperealisme yang pada hakikatnya internasional hanya dapat dikalahkan dan ditundukan dengan penggabungan tenaga antiimperialisme yang internasional juga”, sebagaimana dikatakan oleh Soekarno tepat pada tanggal 17 Agustus 1966 yang bersamaan dengan momentum HUT RI ke-21. Selain Palestina, selama masa pemerintahan Soekarno juga aktif mendukung perjuangan kemerdekaan dan perdamaian diseluruh penjuru dunia seperti Aljazair dan Afrika Selatan melalui OISRAA (Organisasi Indonesia untuk Serikat Rakyat Asia-Afrika) yang didirikan pada tahun 1960 dan tergabung dalam AAPSO (Organisasi Solidaritas Rakyat Asia-Afrika). Soekarno sangat menentang keras sikap imperialisme hingga segala bentuk penjajahan, “Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel”, kata Soekarno dalam pidatonya pada 1962.



Partisipasi Aktif Indonesia untuk Perdamaian Dunia

Dalam studi perdamaian, perdamaian dipahami dalam dua pengertian. Pertama, perdamaian adalah kondisi tidak adanya atau berkurangnya segala jenis kekerasan. Kedua, perdamaian adalah transformasi konflik kreatif non-kekerasan. Dari dua definisi diatas dapat disimpulkan bahwa perdamaian adalah apa yang kita miliki ketika transformasi konflik yang kreatif berlangsung tanpa kekerasan. Perdamaian selain merupakan sebuah keadaan, juga merupakan suatu proses kreatif tanpa kekerasan yang dialami dalam transformasi (fase perkembangan) suatu konflik.

Indonesia juga turut berperan dalam operasi pemeliharaan perdamaian yang telah diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu dalam rangka mewujudkan perdamaian dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Disisi lain, konstelasi perubahan dunia akan selalu berpengaruh terhadap kelangsungan bangsa Indonesia. Dunia yang aman dan damai tentu saja menjadi harapan semua umat manusia termasuk bangsa Indonesia. Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang termasuk terbesar kelima di dunia. Sudah sepantasnya bangsa Indonesia turut memberikan kontribusi nyata bagi perdamaian dunia. Peran Indonesia dalam kancah pemeliharaan perdamaian dunia memang bukanlah hal yang baru. 

Sesuai amanat konstitusi, sejak dekade awal kemerdekaan, Indonesia sudah mengirimkan personelnya untuk terlibat aktif melaksanakan ketertiban dunia melalui berbagai misi perdamaian dibawah bendera Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Keseriusan Indonesia untuk terlibat dalam misi perdamaian dunia telah mengalami transformasi yang signifikan seiring dengan perkembangan lingkungan strategis serta komitmen bangsa untuk lebih proaktif dalam meyikapi konflik yang terjadi. Kiprah dan profesionalitas para pejuang perdamaian baik yang tergabung dalam Kontingen Garuda maupun civilian experts telah menjadi bukti nyata bahwa bangsa Indonesia telah mendapatkan kepercayaan dalam mengemban misi mulia tersebut. Dengan kata lain, perdamaian merupakan hal yang paling diimpikan maupun upaya yang serius diharapkan oleh banyak negara. 

Disisi lain, saat ini PBB telah memiliki beberapa alat kelengkapan yang dinamakan Dewan Keamanan sehingga memiliki tugas untuk menjaga perdamaian (peacekeeper) dan keamanan (security council) antar negara. Untuk menjaga perdamaian dikawasan konflik, PBB membentuk pasukan perdamaian dalam rangka Operasi Pemeliharaan Perdamaian (OPP). Khususnya. untuk melaksanakan perdamaian dari konflik berkepanjangan antara Palestina dan Israel telah dibentuknya UNTSO (United Nations Truce Supervision Organization in Palestine). 

Tetapi saat ini mengapa konflik Palestina dan Israel masih berlangsung padahal PBB telah membentuk UNTSO ? Apakah ini hanya sebagai bentuk formalitas PBB untuk sekedar membentuk tetapi tidak melaksanakan dengan penuh komitmen ? Meskipun Palestina telah diakui oleh PBB sebagai negara bukan anggoata penuh, seharusnya Palestina diberi kemudahan untuk bergabung dengan Mahkamah Kejahatan Internasional (ICJ). Tujuannya agar bisa menuntut negara dan tokoh Isreal ke meja hijau sebagai pelaku atas perang kemanusiaan. Tetapi yang lebih penting mari kita melihat kedalam diri bangsa kita sendiri. Mengapa kita selaku bangsa Indonesia harus dituntut menjaga perdamaian dunia ? Kendati pun demikian, pengertian perdamaian tidak sebatas berhenti disitu. Perdamian bukanlah sekedar soal ketiadaan kekerasan ataupun situasi yang anti kekerasan. 

Lebih jauh dari itu, perdamaian seharusnya mengandung pengertian keadilan dan kemajuan. Perdamaian dunia tidak akan tercapai bila tingkat ketidakadilan, kemiskinan dan keadaan putus harapan tidak dimimalisir. Perdamaian bukan soal penggunaan metode kreatif non-kekerasan terhadap setiap bentuk kekerasan, tapi semestinya dapat menciptakan sebuah situasi yang seimbang dan harmoni, yang tidak berat sebelah bagi pihak yang kuat tetapi sama-sama sederajat dan seimbang bagi semua pihak. Jadi perdamaian dunia merupakan tiadanya kekerasan, kesenjangan, terjadinya konflik antar negara di seluruh dunia.

Setidaknya sebagai bangsa Indonesia, kita jangan terlalu banyak mengeluh apalagi pasrah terhadap segudang permasalahan dalam diri bangsa kita. Diumur Indonesia yang menginjak 72 tahun sudah saatnya kita tingkatkan sense of awareness. Kemerdekaan yang telah kita rasakan adalah sebuah impian dan harapan bagi rakyat Palestina. Jangan pernah lupakan bangsa yang sampai saat ini belum merdeka dan terbebas dari belenggu keterjajahan.

Komentar

Postingan Populer

Berita

Wawasan

Kegiatan