Kemerdekaan dan Makna Simpul Sejarah


Dalam momentum 72 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, memori sejarah bangsa kita merekam satu peristiwa penting tentang ikatan sejarah dan kemanusiaan Indonesia dan Palestina. Faktanya, Palestina merupakan entitas pertama yang mendorong dan mengakui kemerdekaan bangsa Indonesia, di samping Mesir yang menjadi Negara pertama yang mengakuinya. Secara de jure, Indonesia yang telah memprolamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 membutuhkan dukungan dan pengakuan dari Negara lain agar menjadi Negara yang berdaulat.

Lebih spesifik, dukungan tersebut diinisiasi dan diberikan oleh Syaikh Muhammad Amin Al-Husaini. Beliau adalah seorang ulama dan aktivis perjuangan yang saat itu menjabat sebagai mufti Palestina. Dalam kapasitasinya sebagai mufti, Syaikh Amin Al-Husaini berkenan menyambut kedatangan delegasi Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia. Dukungan penuh dan ucapan selamat dari beliau disiarkan oleh radio Berlin pada 6 September 1944, bertepatan dengan pengakuan Jepang atas kemerdekaan Indonesia. (Zein Hassan: Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri, 1980, hal. 40). Support dan dukungan penuh itu disampaikan justru saat bangsa Palestina sedang serius menghadang upaya penguasaan Inggris dan Zionis terhadap buminya.

Syaikh Amin Al-Husaini lahir di Al-Quds dan dikenal sebagai Ulama yang memiliki kepedulian tinggi. Perannya sangat terlihat dalam perjuangan melawan Zionis Israel dan Inggris, terutama pasca terbitnya deklarasi Balfour tahun 1917.

Jika memori sejarah ditarik mundur 5 abad sebelum momentum kemerdekaan Republik Indonesia, akan kembali didapati jasa besar para Ulama Palestina terhadap Bangsa Indonesia. Saat Sultan Muhammad I (1394-1421 M) kekhilafahan Daulah Utsmaniyah mengirim surat kepada para pejabat provinsi di Afrika Utara dan Timur Tengah, untuk mengirim tim da’i yang terdiri dari para pakar di berbagai disiplin selain keahlian utama sebagai pakar ilmu agama. Tim ini yang kemudian diistilahkan dengan walisongo. Menariknya, beberapa anggota tim dakwah tersebut berasal atau berketurunan dari Palestina:

1. Maulana Hasanuddin (1404-1435 M)

2. Maulana Aliyuddin (1404-1435 M)

3. Syaikh Ja’far Shadiq / Sunan Kudus (1435-1463 M)

4. Syarif Hidayatullah / Sunan Gunung Jati (1435-1463 M)

Keempatnya kemudian hidup dan berketurunan di Indonesia. Bahkan secara khusus Syaikh Ja’far Sadiq menamakan tempat dakwahnya dengan nama kota Kudus terinspirasi dari kota suci Al-Quds di Palestina. Beliau juga mendirikan sebuah Masjid Agung yang dinamakan dengan Masjid Al-Aqsha tapi lebih dikenal dengan Masjid Menara Kudus. (Saiful Bahri: The Forbiden Country, 2013, hal. 3)

Dua kisah tentang dukungan kemerdekaan dari Bangsa Palestina serta jasa dan peran dakwah para Ulama Palestina di bumi Indonesia tercinta, seluruhnya merupakan fakta tentang simpul sejarah dan kemanusiaan antara kedua Bangsa.

Banyak makna terkandung dalam jalinan simpul sejarah tersebut. Salah satunya, barangkali tidak berlebihan jika ada ungkapan: jauh sebelum Indonesia memberikan kepedulian terhadap Palestina, Bangsa yang saat itu tengah menjadi target Zionis telah lebih dulu peduli terhadap Indonesia. Pengiriman juru dakwah dari Palestina yang tergabung dalam kafilah walisongo juga merupakan jasa besar terhadap Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim. Jika peduli Palestina karena hanya karena balas budipun merupakan hal yang wajar. Makna itu barangkali bisa menjadi jawaban bagi sebuah pertanyaan: "mengapa mesti peduli Palestina, padahal Indonesia saja masih memiliki banyak PR?"



Sumber : http://www.aspacpalestine.com/id/item/6480-kemerdekaan-dan-makna-simpul-sejarah

Komentar

Postingan Populer

Berita

Wawasan

Kegiatan