Memakmurkan Masjid

Selama bulan Ramadan bila kita melihat masjid, hampir dipastikan ada getaran-getaran semangat. Semarak kegiatan ibadah yang luar biasa sangat terlihat. Baik jamaah shalat wajib yang lima waktu. Bahkan shalat tarawih pun jamaah masjid juga penuh, terutama di awal-awal bulan Ramadan. Tak jarang pula shalat tahajud dihadiri oleh banyak orang. Sebagian bahkan sangat menanti saat-saat syahdu mengalir bersama lantunan ayat suci al-Quran. Hanyut bersama indahnya irama, larut di dalam pesan-pesan langit yang terangkai dalam kalam-Nya yang sangat indah dan menggetarkan. Sebagian lagi menghabiskan hari dan malamnya dengan berdiam diri di dalam masjid (i’tikaf). Demikianlah fenomena luar biasa di bulan lalu. Masjid dijadikan sebagai pusat kegiatan dan titik tolak semua inspirasi kebaikan serta pertemuan ide-ide hebat dalam memberikan kontribusi kemanusiaan.

Sudah lewat tiga pekan dari berakhirnya bulan Ramadan. Lihatlah masjid-masjid dan mushalla-mushalla. Apakah geliat kegiatannya meredup atau sama atau bahkan meningkat dari bulan Ramadan?

Makna inilah yang semestinya dipertahankan dan ditingkatkan secara kontinyu. Karena masjid memiliki peranan yang sangat penting di era awal Islam. Nabi saw melakukan mobilisasi untuk membangun Masjid Nabawi ketika baru tiba di kota Yatsrib (Madinah). Masjid menjadi pusat pelaksanaan ibadah, pusat pembelajaran, pengajaran, majelis ilmu dan dzikir, menjadi tempat menerima tamu, pelantikan duta-duta Rasul saw ke berbagai negeri. Masjid menjadi pusat layanan konsultasi, tempat dan inspirasi ide-ide cemerlang para sahabat. Menjelma menjadi badan strategi dan litbang. Berbagai strategi militer dan perang dirancang di sana.

Jika umat Islam saat ini bergeliat dengan pembangunan fisik masjid, maka itu hal yang membanggakan. Namun, jika hanya dimaknai dengan pembangunan fisik saja, hal tersebut akan paradoks dengan misi sebenarnya masjid yang menjadi pusat inspirasi berbagai ide kebaikan.

Allah menafikan hal yang diklaim kuffar quraisy dalam memakmurkan Masjidil Haram. Lihatlah statement tersebut, “Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka.” (QS. At-Taubah: 17)

Mereka mengira dengan memberi minum orang-orang yang datang menunaikan haji atau berkunjung ke Masjidil Haram itu sudah cukup dianggap baik dalam memakmurkan masjid? Anggapan yang dinafikan oleh Allah. Karena perbuatan mereka paradoks. Mereka bahkan memerangi kaum muslim untuk melakukan banyak hal yang diperintahkan Allah. Al-Quran sering membahasakannya dengan “yashudduna an sabilillah” (menghalangi jalan Allah) .

Saat ini pun bisa terjadi hal tersebut. Membangun masjid mewah, tapi menindas umat Islam? Membangun masjid megah, tapi melanggar syariat Allah? Membangun masjid berlapis emas, tapi berhati busuk mendendam dan menikam saudara sesama muslim? Berlomba-lomba dalam bermegah-megahan membangun masjid tapi tidak peka dengan kondisi umat Islam. Maka perbuatan tersebut akan sia-sia.

Seharusnya sifat yang harus dipenuhi adalah seperti penuturan Allah berikut, “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At-Taubah: 18)

Bahkan seandainya orang sudah memakmurkan masjid tapi ia berdiam diri dalam ketika menyaksikan kezhaliman, maka hal tersebut juga menjadi seperti tak berguna. Lihat pesan Allah, “Apakah (orang-orang) yang memberi minuman orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidilharam kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta bejihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.”(QS. At-Taubah: 19)

Maka, saat ada kezhaliman dipertontonkan dan didiamkan kemudian orang yang mengaku telah memakmurkan masjid tapi ia berdiam diri, layaklah hal tersebut? Terlebih jika penistaan dan kezhaliman itu terjadi dipelataran Masjid al-Aqsha. Wahai kaum muslimin yang terus diminta untuk memakmurkan masjid, usirlah berbagai kezhaliman dari dalam masjid dan pelatarannya. Sebelumnya, usirlah sifat egois dan iri dengan saudara dari dalam dada ini.

Catatan Keberkahan 60
Jakarta, 15.07.2017
SAIFUL BAHRI

Sumber: http://www.aspacpalestine.com/id/item/6318-memakmurkan-masjid

Komentar

Postingan Populer

Berita

Wawasan

Kegiatan