Tertawan Ketidakberdayaan


KNRP - Jika seseorang ditawari untuk menjadi penasehat negara, penasehat kepala negara atau raja, tentu ia sangat bahagia menerima tawaran tersebut. Namun, tidak halnya dengan Yusuf alaihissalâm. Ia justru meminta utusan raja tersebut kembali kepada tuannya. Kembali untuk membersihkan nama baiknya. Yusuf dijebloskan ke penjara tahunan lamanya. Tanpa sebuah proses pengadilan yang benar, tanpa tuntutan, tanpa putusan, tanpa didampingi pengacara atau pembela. Itu terjadi justru setelah ia dinyatakan bebas dan tak bersalah oleh al-azîz, orang penting di Mesir saat itu. Saksi ahli yang diharapkan berpihak pada penguasa pun ternyata tegas mengatakan bahwa Yusuf tak bersalah. Karena baju Yusuf yang robek adalah bagian belakangnya.

Perjalanan Yusuf ke istana yang pertama adalah sebuah karunia sekaligus cobaan baginya. Karena kemudian Allah mengujinya dengan ujian yang lebih dahsyat, yaitu penjara yang tidak dibayangkan sebelumnya. Ia dimasukkan penjara tanpa tuduhan apa-apa. Untuk kesekian kalinya ia tertawan ketidakberdayaan.

Yusuf adalah prototype pribadi yang tidak menyerah. Saat ia terkepung konspirasi kemaksiatan, ia berikhtiar lari ke arah pintu mencari jalan kemenangan. Membuat sang pembuat makar panik, padahal kunci pintu sudah dipegangnya. Yusuf pun terbukti benar dan terbebaskan dari tuduhan keji. Dengan sebuah saksi yang kredibel dan teruji kebenarannya. Tapi itu tak cukup menyelamatkannya dari jeruji besi. Yusuf pun dipenjara. Tapi justru itulah permulaan dari tugasnya sebagai pendakwah. Menyampaikan kebenaran dari tempat yang sering dianggap sering tidak diharapkan kebaikannya. Ia pun sukses, buah kesabaran dan kegigihan serta taufik tari Tuhannya.

Saat Yusuf hendak dijemput istana, kali ini ia tertawan oleh glamornya jabatan, oleh tawaran menggiurkan. Peluang berbagai kebaikan nampak jelas di depannya. Namun, ia tak silau dan tak lupa, bahwa dirinya tertawan oleh ketidakberdayaan. Nama baiknya perlu dibersihkan. Ia memprioritaskan hal tersebut. Dan perjalanannya ke istana pun menjadi jalan puncak yang manis dan indah. Bukan sekedar bersih namanya, ia kemudian menjadi “juru selamat” di tengah krisis paceklik yang dahsyat. Kemampuan manajemen krisisnya bermanfaat bukan hanya untuk bangsanya, tapi sampai ke negara-negara tetangga.

Ketidakberdayaan, apapun namanya sering hanya diidentikkan dengan hal-hal negatif. Padahal orang sering tak berdaya –juga– ketika dunia mulai dibukakan untuknya. Lihat, berapa banyak manusia takluk didepan tawaran jabatan dunia yang menggiurkan. Banyak orang bertekuk lutut di depan perempuan cantik pujaannya. Beberapa yang lainnya menyerah di depan kepingan uang yang selalu diimpikannya.

Karenanya, Rasulullah SAW mengajarkan sahabatnya, Abu Umamah ra. untuk membebaskan dirinya dari berbagai ketidakberdayaan. Doa yang kita pun dianjurkan membaca setiap pagi dan petang, “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari ham (murung) dan hazan (sedih), dan aku berlindung kepada-Mu dari ‘ajz (lemah) dan kasal (malas), dan aku berlindung kepada-Mu dari jubn (pengecut) dan bukhl (kikir), aku berlindung kepada-Mu dari terlilit hutang dan berada di bawah tekanan orang”.

Kita selalu dianjurkan untuk keluar dan melawan setiap ketidakberdayaan. Kemudian membela mereka-mereka yang tertawan ketidakberdayaan. Mereka yang tertawan kezhaliman di Palestina, seharusnya juga dibela oleh banyak orang di dunia ini. Para tawanan yang meringkuk di penjara-penjara dengan berbagai vonis yang tak logis itu jarang diperhatikan dunia. Kamera-kamera hak asasi manusia seolah menjauh dari mereka. Saudara-saudara kita di Somalia yang tertunduk lesu dan lemas, melawan ketidakberdayaan, kelaparan dan kemiskinan yang merajalela, juga dijauhi kamera. Tidak menarik untuk meliput mereka, karena kalah prestis dengan liga-liga sepakbola Eropa.

Bebaskan diri dari ketidakberdayaan apapun, di saat yang sama, bantu orang lain melawan dan membebaskan dirinya dari ketidakberdayaan.

Catatan Keberkahan 50

Jakarta, 14.04.2017

SAIFUL BAHRI

Sumber : aspacpalestine.com

Komentar

Postingan Populer

Berita

Wawasan

Kegiatan