Palestina di Eropa Tekad Kembali ke Tanah Air dan Kecam Blokade Gaza


Roterdam – Konferensi warga Palestina rantauan di Eropa kelima dalam pernyataan sikap akhirnya menyatakan komitmen mereka terhadap hak kembali ke tanah air Palestina, bertekad mengembangkan usaha dan pengaruhnya untuk mengembalikan hak-hak bangsa Palestina yang legal. Pada saat yang sama mereka mengecam keras blokade Jalur Gaza yang semakin diperketat.

Konferensi Kelima ini digelar pada Sabtu kemarin di Roterdam Belanda dengan jargon “100 Tahun, Menang dan Tak Akan Patah Semangat” yang diselenggarakan oleh Lembaga Palestina Eropa, Pusat Hak Kembali Palestina” dan komunitas Palestina dan Rumah Palestina di Belanda. Konferensi diikui leh ribuan warga Palestina rantau/pencari suaka, perwakilan, tokoh dan asosiasi profesi lainnya yang berasal dari penjuru Eropa.

Mereka menegaskan, sikap dan proyek serta inisiatif apapun untuk menyelesaikan persoalan bangsa Palestina ditentukan sejauh mana bisa menjamin hak kembali pengungsi Palestina ke tanah airnya, menentukan nasibnya, membebaskan diri dari penjajah Israel dan adanya standar keadilan tanpa mengalah dari hak-hak permanen di tanah air mereka yang bersejarah.

Hak-hak bangsa Palestina dan prinsipnya yang permanen itu tidak boleh diremehkan.

Dalam konferensi itu digelar seminar, workshop, forum diskusi dan berbagai aktivitas lainnya untuk mengembangkan potensi bangsa Palestina di rantu Eropa serta jalinan komunikasi dengan berbagai lembaga dan masyarakat sipil.

Tuntutan kepada Inggris Agar Minta Maaf atas Janji Balfour

Para peserta meminta kepada Kerajaan Inggris untuk mengeluarkan surat resmi permintaan maaf atas Deklarasi Balfour (PM Inggris yang menjajah Palestina yang kala itu memberikan hak kepada Yahudi untuk mendirikan negara di Palestina), serta segala tidnakan pelanggaran terhadap standa keadilan dan hak. Sebab akibat tindakan itu, bangsa Palestina terusir dari negeri mereka dan kita terbuang dimana-mana.

Palestina Eropa juga mengecam tindakan Israel terhadap kota Al-Quds dan tempat sucinya di sana, tempat tinggal warga dan lembaga-lembaga sipil di sana. Mereka menilai pemindahan kedutaan besar Amerika ke Al-Quds sebagai tindakan melampaui batas berbahaya.


Sumber : melayu.palinfo.com

Komentar

Postingan Populer

Berita

Wawasan

Kegiatan