ISA (Indonesia) Jalin Kerja Sama dengan ISRA (Turki) dalam Riset Baitul Maqdis

Pendiri ISA (Institut Al-Aqsa untuk Riset Perdamaian) dan Ketua Badan Pengarah ISRA (Islamic Jerusalem Research Academy) menjelang penandatanganan protokol kerja sama antara kedua lembaga di bidang riset Baitul Maqdis di Istanbul, 9 Desember 2016. Acara ini bagian dari rangkaian “Workshop dan Muktamar 500 Tahun Hubungan Baitul Maqdis dan Kesultanan Utsmaniyyah”. Foto: ISA

ISTANBUL, Selasa : Kota berkah. Hari berkah. Perjalanan berkah. Kerja sama berkah.

Alhamdulillah, sebuah langkah baru dibubuhkan di kota ribath, Istanbul. Kota yang sejak 563 tahun lalu menjadi simbol penting kewibawaan umat Islam, yaitu ketika nubuwah Rasulullah Shallallaahu ‘alayhi wa sallam tentang dimerdekakannya Konstantinopel oleh panglima dan pasukan terbaik, Allah wujudkan dalam kenyataan.

Di jantung kota Istanbul inilah, hari Jum’at hampir dua minggu lalu (9/12) sebuah protokol ta’awun (kerja sama) di bidang riset dan keilmuan tentang Baitul Maqdis ditandatangani antara Institut Al-Aqsa untuk Riset Perdamaian (ISA) yang berpusat di Jakarta dan IslamicJerusalem Research Academy (ISRA) yang berpusat di Istanbul.

Menurut salah satu pendiri ISA Santi Soekanto, kerja sama tahap pertama yang berjangka tiga tahun ini meliputi riset, pertukaran pakar, pelatihan serta penterjemahan dan penerbitan karya ilmiah.

“Studi tentang Baitul Maqdis atau Islamic Jerusalem sudah dimulai di sebuah universitas di Skotlandia lebih dari 20 tahun lalu, Indonesia baru mau kita galakkan sekarang. Semoga Allah berkahi,” jelas Santi Soekanto sambil menambahkan, dalam tiga tahun ke depan ISA akan mempromosikan studi Baitul Maqdis ke sebanyak mungkin perguruan tinggi Indonesia.

Diantara anggota delegasi ISA yang hadir ada wakil tiga perguruan tinggi Islam: Ust. Alif Bachtiar Latiful Kafi Al-Hafizh dari STIQ (Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran) Isy Karima di Karanganyar, Jawa Tengah; Dr. Tiar Anwar Bachtiar dari STAIPI (Sekolah Tinggi Agama Islam PERSIS) di Garut; dan Dr. Abdurrohim Syamsu Rijal dari STIS (Sekolah Tinggi Ilmu Syariah) Hidayatullah di Balikpapan.

Sebelum penandatanganan dilakukan, Pendiri ISRA Prof. Abd Al-Fattah El-Awaisi menjelaskan, “Kami sudah banyak membicarakan tawaran kerja sama seperti ini dengan berbagai pihak di Timur Tengah, tapi saudara-saudara kita dari Indonesia berbeda. Mereka sudah berkarya dulu sebelum bicara dengan kami.”

Studi Baitul Maqdis merupakan bidang riset dan kajian ilmiah yang mendalami ilmu dan informasi tentang Masjidil Aqsha dan Baitul Maqdis baik dalam dimensi Rabbaniyah, Nabawiyah, sirah, tarikh, fisiologi bangunan dan arsitekturnya, sosiologi, maupun geostrategisnya.

Menurut El-Awaisi, hanya dengan ilmu dan informasi yang shahih tentang Baitul Maqdis perubahan dan perjuangan memerdekakan Masjidil Aqsha dan Negeri Syam bisa ditujukan ke arah yang benar, “Seperti yang telah dilakukan oleh ‘Umar bin Khattab dan Shalahuddin Al-Ayyubi.”

Lembaga Indonesia ISA adalah lembaga riset perdamaian yang baru tahun ini didirikan oleh Sahabat Al-Aqsha, sebuah yayasan yang sejak tahun 2007 menjalin jaringan silaturrahim antara keluarga-keluarga Indonesia, Palestina, dan Suriah.

Penandatanganan protokol kerja sama itu dilakukan sebagai rangkaian acara workshop dan muktamar (konferensi) “500 Tahun Hubungan Baitul Maqdis dan Kesultanan Utsmaniyyah”.

Penandatanganan dilakukan oleh wakil kedua lembaga. ISA diwakili salah satu pendirinya, Dzikrullah W. Pramudya, sedangkan ISRA diwakili Direktur Badan Pengarah Khalid El-Awaisi, PhD, disaksikan seluruh peserta workshop dari Palestina, Inggris, Maroko, Aljazair, Turki, Malaysia dan Indonesia.

Usai pertukaran naskah protokol kerja sama, Dzikrullah mewakili delegasi Indonesia-Malaysia menyerahkan hadiah kepada Prof Dr. Abd Al-Fattah El-Awaisi dan kawan-kawan berupa minyak wangi dan rehal (dudukan) mushaf Al-Quran.

Minyak wangi itu diproduksi oleh perusahaan Huurun milik Muhaimin Iqbal, Ketua Dewan Pembina Sahabat Al-Aqsha. Minyak wangi itu diracik khusus dari bahan-bahan yang berkaitan dengan Baitul Maqdis seperti za’faran, citrus, melati, dan zaitun, dan diberi nama Isa Returns (Isa Kembali).

Sumber : Sahabat Al-Aqsha

Komentar

Postingan Populer

Berita

Wawasan

Kegiatan