Sejarah Palestina #4


Revolusi Besar Palestina [1936-1939 M]
Pada tahun 1936-1939 M,revolusi besar Palestina meletus di seluruh Palestina yang mana bertujuan untuk melawan Inggris dan Yahudi, dimulai dengan pemogokan kerja selama 6 bulan. Revolusi besar tersebut menuntut tiga hal:
- Menuntut berhentinya gelombang imigrasi Yahudi
- Melarang pemindahan kepemilikan tanah untuk orang-orang Yahudi
- Menuntut pembentukan pemerintah nasional
Pada masa terjadi pemberontakan tahun 1937 M, pemerintah Inggris membentuk sebuah komisi yang dinamai “komisi Peel”. Komisi tersebut mengeluarkan surat pembagian atas Palestina: Negara Arab dan Negara Yahudi, dengan kota Yerusalem tetap di bawah kekuasaan Inggris. Dan perintah hijrah (pindah) ratusan ribu warga Palestina dari kawasan Yahudi ke kawasan Arab (menurut pembagian komisi Peel). Sebelum adanya pembagian tersebut, tanah yang dihuni oleh orang-orang Yahudi hanya 5,5% dari luas Palestina, namun komisi Peel meluaskannya menjadi 33%. Sontak warga Palestina menolak keras pembagian tersebut yang akhirnya tidak diberlakukan.
Di bawah tekanan rakyat Palestina akhirnya pemerintah Inggris mengeluarkan pernyataan yang dikenal dengan “white paper”, yang berisikan pelarangan kelanjutan imigrasi Yahudi ke Palestina selama 5 tahun dan juga menawarkan kemerdekaan kepada Palestina selama kurun waktu 10 tahun.
Mengetahui hal itu, Yahudi-Zionis berang. Kemudian organisasi-organisasi militer Yahudi seperti Hagana, Irgun dan sytern melancarkan serangan berdarah bukan hanya tertuju untuk warga Palestina saja melainkan juga untuk Inggris, bertujuan untuk memaksa Inggris menarik diri dari Palestina agar mereka lebih leluasa untuk membangun Negara Yahudi di tanah Palestina.
Peristiwa serangan terbesar yang dilakukan Yahudi-Zionis adalah:
- Pengeboman hotel King Daud di Yerusalem tahun 1946 M (pusat pemerintahan Inggris)
- Pembunuhan besar-besaran (Dar Yasin) di Yerusalem tahun 1948 M

Resolusi 181 [1947 M]
Setelah peristiwa pemboman oleh Yahudi-Zionis, Inggris menetapkan untuk menarik orang-orangnya dari tanah Palestina dengan meminta surat perintah dari PBB. Selanjutnya PBB melaksanakan sidang darurat yang mengeluarkan keputusan pembagian tanah Palestina dikenal sebagai “resolusi 181”. Resolusi tersebut berisikan pembagian tanah Palestina sebagai tanah untuk dua Negara: Negara Palestina dan Negara Yahudi, dan Yerusalem menjadi wilayah Internasional. Resolusi tersebut telah disepakati oleh PBB, Uni Sofyet dan Amerika.
Pada saat itu, Yahudi hanya menempati 6,5% tanah Palestina, namun setelah muncul resolusi 181, tanah untuk Negara Yahudi menjadi 56,5%. Jelas warga Palestina dan Arab dunia menolak keputusan tersebut.
Kemudian, apa akibat dari keputusan yang timpang ini?
(Bersambung...)

Komentar

Postingan Populer

Berita

Wawasan

Kegiatan