Deklarasi Balfour (Bagian 2)


Inggris dan Zionis
Goldschmidt mengatakan bahwa Perang Dunia I merupakan peristiwa ke tiga yang menyelamatkan politik Zionisme. Kedua kubu sama-sama membutuhkan dukungan Zionis dalam perang ini. Tahun 1914, Berlin merupakan pusat pergerakan Zionisme, dan secara politik tempat ini menjadi tempat tinggal para Yahudi.
Dalam hal ini, Yahudi berada di pihak Jerman, Austria-Hungaria dan Turki Utsmani. Tahun 1917, ketika Amerika Serikat memutuskan bergabung dengan pihak sekutu, orang-orang Yahudi Amerika cenderung mendukung Jerman, karena mereka sangat membenci tirani Rusia. Fase ini menjadi fase krusial dalam perjalanan perang.
Kedua belah pihak sama-sama membutuhkan kekuatan Yahudi, tetapi keputusan Jerman bersekutu dengan Turki Utsmani menjadi faktor berpalingnya Yahudi dari pihaknya. Kesempatan ini dimanfaatkan dengan baik oleh Inggris (Goldschmidt 1917: 234).
Inggris, meskipun mempunyai hubungan yang tidak begitu erat dengan Zionisme, tetapi dapat melakukan ancaman bagi pihak yang ingin membahayakan Zionisme. Hal ini karena seorang juru bicara Zionis, Dr. Chaim Wiezman, merupakan seorang ahli kimia yang terkenal karena berhasil menyintesiskan aseton menjadi bahan peledak seperti yang pernah diimpor Inggris dari Jerman. Penemuannya ini membuatnya mampu mempengaruhi para wartawan dan terkadang hingga jajaran kabinet Inggris. Perdana Menteri Lloyd George contohnya, telah berhasil menaruh simpati kepada Zionisme dari membaca bibel. Weizman pun telah mendapat dukungan penuh dari Lord Balfour. Orang inilah yang berbicara kepada Kabinet Zionis Inggris untuk membantu pergerakan mereka melalui Deklarasi Balfour (Goldschmidt 1917: 243).

Deklarasi Balfour
Keputusan Inggris mendukung pendirian negara Israel secara resmi dideklarasikan tanggal 2 November 1917. Deklarasi ini dikenal dengan nama Deklarasi Balfour. Dikatakan demikian karena keputusan ini keluar dari sebuah surat yang ditulis Sekretaris Jenderal Luar Negeri, Lord Balfour, kepada Lord (Lionel) Rothschild, Kepala Kehormatan Federasi Zionis di Inggris dan Irlandia. Berikut adalah isi surat tersebut
Foreign Office
November 2nd, 1917
Dear Lord Rothschild,
I have much pleasure in conveying to you, on behalf of His Majesty's Government, the following declaration of sympathy with Jewish Zionist aspirations which has been submitted to, and approved by, the Cabinet.
"His Majesty's Government view with favour the establishment in Palestine of a national home for the Jewish people, and will use their best endeavours to facilitate the achievement of this object, it being clearly understood that nothing shall be done which may prejudice the civil and religious rights of existing non-Jewish communities in Palestine, or the rights and political status enjoyed by Jews in any other country."
I should be grateful if you would bring this declaration to the knowledge of the Zionist Federation.
Yours sincerelys,
Arthur James Balfour

Surat tersebut mempunyai inti sebagai berikut.
1) Pemerintah Inggris akan membantu mendirikan wilayah nasional bagi orang-orang Yahudi, di Palestina, dan akan mengerahkan upaya terbaik mereka untuk memfasilitasi tercapainya tujuan ini.
2) Tidak akan dilakukan sesuatu yang mungkin merugikan hak sipil dan keagamaan bagi komunitas non-Yahudi yang ada di Palestina.
3) Tidak akan mengganggu status atau hak-hak orang Yahudi yang ingin tetap tinggal di luar wilayah Palestina.
Sampai sini, ada hal menarik yang diungkapkan oleh Ansary di bukunya. Inggris pada dasarnya menjanjikan wilayah yang sama kepada Hasyimiyah, Ibn Saud dan zionis Eropa, yaitu wilayah yang sebenarnya dihuni oleh orang Arab lain yang dengan cepat mengembangkan aspirasi nasionalisme mereka sendiri. Sementara pada kenyataannya, Inggris dan Prancis secara diam-diam telah sepakat untuk membagi-bagi seluruh wilayah yang dijanjikan itu untuk diri mereka sendiri. Meskipun banyak saling bantah,tarik ulur persyaratan, dan penyangkalan yang ditawarkan selama bertahun-tahun tentang siapa yang setuju atas apa dan apa yang dijanjikan kepada siapa (Ansary 2009: 475).

Dampak Deklarasi Balfour bagi Konflik Arab-Israel
Deklarasi Balfour telah dijadikan semacam Magna Charta bagi politik Zionisme. Dalam deklarasi tersebut tidak dikatakan bahwa Palestina akan diubah menjadi negara Yahudi. Pada kenyataaannya, juga tidak dikatakan secara jelas mana batas-batas wilayah Palestina, yang pada saat itu dan selanjutnya dalam jajahan Inggris.
Pemerintah Inggris berjanji hanya akan membantu pendirian semacam kampung nasional bagi Yahudi di tanah Palestina dan tidak membahayakan hak sipil dan keagamaan bagi komunitas non-Yahudi di Palestina. Sebanyak 93 persen dari penduduk yang tinggal di Palestina itu –Muslim dan Nasrani- yang berbicara menggunakan bahasa Arab tidak mau dipisahkan dari sesamanya. Ketakutan-ketakutan mulai muncul dari orang-orang yang tinggal di Palestina tersebut (Goldschmidt 1917: 235).
Baik Inggris atau Zionis harus mencari cara terbaik untuk meredakan ketakutan-ketakutan ini dan menjamin hak-hak mereka. Inilah inti dari konflik yang terjadi antara Yahudi dan Palestina hingga saat ini. Dalam konflik Arab-Israel, yang diperdebatkan adalah legitimasi atas hak orang-orang Arab di Palestina.
Deklarasi Balfour juga menyisakan ketakutan bagi orang-orang Yahudi yang memilih untuk tetap tinggal di luar Palestina. Mereka yang tidak mau kehilangan status dan hak kewarganegaraan seperti di Prancis, Inggris, dan Amerika Serikat.
Ketika Perang Dunia I berakhir, Inggris menguasai Palestina. Inggris membuat perundang-undangan sementara di Yerusalem dan sesegera mungkin melibatkan dirinya pada permasalahan orang-orang Yahudi -yang dengan cepat membanjiri wilayah Palestina- dan orang-orang Arab –yang menentang usaha Yahudi-. Sejak saat itu, konflik berkepanjangan terjadi antara Zionis dan orang-orang Arab. Dengan demikian, dapat kita lihat, bahwa Deklarasi Balfour dapat dikatakan menjadi main factor dalam sejarah konflik Arab-Israel.
Gerakan nasionalisme di barat yang dapat dikatakan melahirkan gerakan zionisme tentu berperan penting. Gejolak politik yang terjadi di dalam tubuh Turki Utsmani seolah mendukung langkah-langkah Zionisme untuk memenuhi tujuannya. Perang Dunia I seperti menjadi meja judi bagi pemain-pemain yang berkepentingan. Meskipun anehnya, harta yang mereka pertaruhkan bukanlah milik mereka. Palestina adalah milik orang-orang yang tinggal di dalamnya. Palestina bukan tanah yang kosong ataupun tanah tanpa administrasi wilayah.
Bagaimanapun, Deklarasi Balfour mengantarkan perhatian seluruh dunia pada sebuah wilayah Palestina yang masih menjadi rebutan bagi Arab dan Israel.

Referensi:
Ansary, Tamim. (2009). Dari Puncak Baghdad: Sejarah Dunia Versi Islam. Jakarta: Zaman.
Chomsky, Noam. (2002). Pirates and Emperors, Old and New International Terrorism in the
Real World.
Dolphin, Ray. (2006). The West Bank Wall: Unmaking Palestine. London: Pluto Press.
Goldschmidt, Arthur. (1983). A Concise History of The Middle East. Egypt: The American University in Cairo Press.

(aspacpalestine.com)

Komentar

Postingan Populer

Berita

Wawasan

Kegiatan