Deklarasi Balfour (Bagian 1)


Konflik Arab-Isarel yang telah dimulai kurang lebih seabad lalu, sampai saat ini belum mulai terlihat tanda-tanda penyelesaiannya. Baik di pihak Arab maupun Israel sama-sama tidak ingin dirugikan. Kedua belah pihak saling menuntut satu sama lain. Meskipun upaya damai sudah sering dilakukan, bukan berarti ada cahaya di antara keruhnya konflik ini.
Pembahasan tentang konflik Arab-Israel selalu menarik untuk ditelusuri. Rentetan peristiwa bersejarah yang ada di dalamnya seolah tidak selesai dibahas satu atau dua kali. Selalu ada peristiwa yang menyimpan misteri dan teka-teki tak terpecahkan secara kasat mata. Selalu ada pro dan kontra atas sebuah kebijakan yang coba dijadikan sebagai bentuk win-win solution. Seperti ada kecurangan yang dimaafkan dan ada kebenaran yang menyakitkan lantas ditutup rapat
Tulisan ini akan melihat bagaimana latar belakang terjadinya Deklarasi Balfour yang dianggap sebagai salah satu faktor kemunculan konflik Arab-Israel. Deklarasi Balfour tidak bisa dilepaskan dari kisah seputar Perang Dunia I, gerakan Zionisme, Inggris dan wilayah Palestina. Semacam ada hubungan khusus yang dapat dilihat secara tidak langsung antara gerakan Zionisme dan Inggris dibalik deklarasi ini. Ada rentetan peristiwa apakah di balik Deklarasi Balfour?
Konflik Arab-Israel dipengaruhi masuknya invasi Barat ke dunia Arab. Negara-negara seperti Inggris meluaskan wilayah okupasinya ke tanah Arab yang pada saat itu sedang dikuasai sebuah kekuatan besar bercorak Islam, Turki Utsmani. Dengan membawa pedang bermata dua bernama nasionalisme, Inggris berhasil memecah belah tanah Arab dan meruntuhkan kekuatan besar yang telah berdiri selama berabad-abad. Melalui Perang Dunia I, Inggris berhasil menebas leher kekuatan besar tersebut.
Dalam memainkan perannya, Inggris dipengaruhi oleh sebuah paham yang lahir sekitar akhir abad ke-19, Zionisme. Entah apa yang diperoleh Inggris dari para Zionis, sampai suatu masa Inggris membuka lebar peluang Zionisme dalam mencapai cita-citanya melalui Deklarasi Balfour. Entah atas dasar apa Inggris memberikan tanah kekuasaannya kepada sekelompok orang yang tengah haus mendirikan negara itu. Tentunya Inggris yang cerdas itu, -seharusnya- tidak akan luluh hanya dengan kampanye berslogan a land without the people for a people without land. Terjadinya Deklarasi Balfour yang dikeluarkan Inggris yang sangat menguntungkan Zionisme. Deklarasi ini menjadi semacam salah satu faktor merebaknya dan meluasnya konflik Arab-Israel.

Yahudi dan Zionisme
Yahudi dan Zionisme sering diidentikkan sebagai dua kata yang maknanya kurang lebih sama. Padahal kedua kata ini memiliki perbedaan makna yang cukup mendasar. Kesalahan dalam mempersepsikan dua makna ini dapat berakibat fatal dalam memahami sejarah dan perkembangan konflik.
Latar belakang terjadinya Deklarasi Balfour tidak bisa dilepaskan dari gerakan Zionisme. Berbicara tentang gerakan Zionisme, maka kita juga akan berbicara seputar Yahudi, sebagai agama maupun sebagai ras.
Jika dilihat sebagai sebuah ras, maka yang dimaksud dengan Yahudi adalah orang-orang keturunan Nabi Yakub As. Sekitar tahun 2000 SM, Ibrahim As berpindah dari Babilonia lama (sekarang Irak) ke tanah Kanaan (sekarang Palestina). Di tanah tersebut sudah ada penghuni tetap yaitu bangsa Kanaan. Di wilayah tersebut, Ibrahim As hidup bersama generasi berikut-berikutnya.
Sampai pada masa Nabi Yususf As, keturunan Ibrahim As berpindah tempat ke Mesir (karena pada saat itu tanah Kanaan sedang dilanda kemarau dan kering berkepanjangan, sehingga susah mencari makanan). Keturunan Ibrahim As kembali dari Mesir ke tanah Kanaan pada masa Musa dan Harun As. Setelah selama 40 tahun berputar-putar di Sinai, akhirnya mereka berhasil memasuki tanah Kanaan dan menaklukkan orang-orang yang ada di dalamnya. Berhasil menguasai tanah tersebut, membuat keturunan Ibrahim As mendirikan sebuah kerajaan Israel dengan Daud As sebagai raja pertamanya.
Kerajaan ini cukup gemilang hingga masa kekuasaan Sulaiman As. Sepeninggal Sulaiman As, beberapa kekuatan besar berhasil menghantam kerajaan Israel. Kerajaan ini sempat terpecah menjadi dua wilayah, bagian Utara dan Selatan. Selanjutnya, tidak ada lagi kisah emas bagi keturunan Ibrahim As. Keturunannya terdiaspora ke berbagai penjuru dunia melalui kekuatan-kekuatan besar yang terus bermunculan silih berganti (Yahya 2003: 38—39).
Sebagai sebuah agama, yang dimaksud Yahudi adalah sebuah sistem kepercayaan yang dianut oleh keturunan Ibrahim As sebelum lahirnya agama Nasrani dan Islam. Sebuah sistem kepercayaan yang memiliki Tuhan Esa dengan Taurat sebagai kitab sucinya. Memang, sampai saat ini terdapat pro kontra terkait perkembangan Yahudi sebagai sebuah sistem kepercayaan. Termasuk pro kontra terkait keorisinalan isi Taurat. Sampai saat ini masih ada juga yang memperdebatkan hal ini.
Paham Zionisme mulai muncul di tengah-tengah arus nasionalisme Eropa. Dalam paruh terakhir abad ke-19, gerakan-gerakan yang didorong oleh nasionalisme pertama-tama melahirkan Jerman, kemudian Italia. Virus ini kemudian menyebar ke Eropa Timur setidaknya melalui dua negara ini (Ansary 2009: 451).
Gerakan nasionalisme Eropa lainnya yang memiliki konsekuensi langsung bagi sejarah dunia adalah gerakan Zionisme. Gerakan ini setuju dengan pendapat Herder bahwa orang-orang yang memiliki bahasa, budaya dan sejarah yang sama adalah sebuah bangsa. Gerakan ini setuju dengan Mazzini bahwa sebuah bangsa memiliki hak atas negara yang dijalankan dengan pemerintahan sendiri. Jika orang-orang Jerman adalah sebuah bangsa dan memiliki hak tersebut, jika orang-orang Italia adalah sebuah bangsa, jika orang-orang Prancis adalah sebuah bangsa, maka orang-orang Yahudi adalah sebuah bangsa (Ansary 2009: 453).
Namun, ada perbedaan penting antara orang-orang Yahudi dengan orang-orang Jerman, Italia dan Prancis. Orang-orang Yahudi tidak memiliki wilayah. Mereka terdiaspora ke berbagai penjuru negeri selama ribuan tahun dan hidup sebagai minoritas di negara lain. Rupanya ada semacam persatuan Yahudi yang diikat berdasarkan kesamaan sejarah dan budaya. Di Eropa abad ke-19, sangat mungkin untuk menjadi Yahudi tanpa menjalankan ibadah bahkan memercayai Yahudi. Anehnya, mereka yang bersatu ini berkeyakinan bahwa tanah Kanaan telah dijanjikan oleh Tuhan untuk mereka. Dalam bukunya, Ansary mengatakan,
Banyak Zionis Eropa abad ke-19 yang sekuler, tetapi ajaran tentang Tanah yang Dijanjikan ini tetap saja masuk ke dalam argumen untuk sebuah negara-bangsa Yahudi di sepanjang pantai timur Laut Tengah.
(Ansary 2009: 454).
Pendapat yang dikemukakan oleh Ansary senada dengan yang diungkapkan oleh Yahya dan Goldschmidt. Yahya mendefinisikan Zionisme sebagai sebuah paham persatuan ras yang ingin mendirikan sebuah negara. Paham ini didirikan oleh seorang wartawan berkebangsaan Austria, Theodor Herzl, akhir abad ke-19.
Herzl beranggapan bahwa selama ras Yahudi menyebar di berbagai penjuru dunia, maka tidak akan ada kebahagiaan bagi Yahudi. Selamanya Yahudi adalah ras minoritas yang terus tertindas di negara lain, terlebih oleh negara penganut anti-semitisme. Maka, satu-satunya cara adalah mengumpulkan bangsa Yahudi ke satu wilayah. Palestina menjadi pilihan mereka dengan alasan ideologi-historis.
Pendapat senada diungkapkan Goldschmidt berikut.
The meaning of Zionism itself has become controversial, ever since a 1975 UN General Assembly resolution calling it ‘ a form of racism’. Almost no one nowadays want to have his or her beliefs associated with racism –the idea that one racial group is better than some other group and should therefore rule over it- so Zionist naturally opposed the resolution, as did most Western countries. I define ‘Zionism’ as the beliefe that the Jews constitute a nation, a people and that they deserve the liberties of other such group, including the right to return to their ancestral homeland, the land of Israel (or Palestine). Political Zionism is the belief that the Jews should establish and maintain a state for themselves there.
(Goldschmidt 1979 : 228—229).
Goldschmidt menambahkan bahwa tidak semua Yahudi adalah Zionis. Beberapa Yahudi menganggap diri mereka adalah bagian dari negara di mana mereka tinggal. Mereka adalah bangsa dari negara tempat mereka lahir dan hidup. Mereka menolak ide-ide Zionisme, termasuk konsep nasionalisme dan kembali ke Tanah yang Dijanjikan. Tidak semua Zionis adalah orang-orang Yahudi. Beberapa umat Nasrani meyakini bahwa kembalinya Yahudi ke tanah Palestina atau berdirinya negara Israel adalah awal kemunculan kedua Yesus (Goldschmidt 1979 : 229).
Beberapa orang non-Yahudi mendukung pendirian negara Israel, karena mereka menganggap orang-orang Yahudi tidak dapat menjadi bangsa lain. Orang-orang Yahudi di Jerman tidak dapat menjadi bangsa Jerman. Mereka tidak akan dapat berbahasa Jerman dengan baik, meskipun mereka lahir dan besar di Jerman.

Perang Dunia I
Palestina sebelum meletusnya Perang Dunia I merupakan salah satu wilayah kekuasaan Turki Utsmani. Awal abad ke-20, kekacauan terjadi di dalam Turki Utsmani. Muncul sekelompok kekuatan -yang terdiri atas golongan muda- sebagai bentuk ketidakpercayaan pada kepemimpinan Sultan Abdul Hamid II. Kekuatan ini menamai dirirnya Committee of Union and Progress (CUP).
Dalam perjuangannya merebut kekuataan Sultan, para anggota CUP menggunakan slogan Equality, Fraternity, Liberty and Justice (Jamil 2000: 151). CUP inilah yang menyetir kekuatan Turki Utsmani dari awal abad ke-20 hingga Turki Utsmani menjadi sebuah negara nasionalis.
Perang Dunia I yang meletus Agustus 1914 dilihat oleh anggota CUP sebagai kesempatan untuk mengembalikan kekuatan Turki Utsmani. Enver Pasha, yang saat itu menjadi salah satu pemimpin CUP, mungkin terpengaruh oleh hasutan militer Jerman, tetapi salah satu motif mengapa mereka memutuskan bergabung dengan Jerman adalah mereka ingin mengambil kembali Mesir dari tangan Inggris dan
Pegunungan Kaukasus dari Rusia. Pertimbangan lainnya adaah bahwa Jerman adalah kekuatan industri paling hebat di benua Eropa, yang berhasil menekan Prancis dan menggenggam Eropa tengah. Tentu saja, dengan berpihak kepada Jerman, Turki akan memerangi dua musuh utamanya, Inggris dan Rusia (Ansary 2009: 468).
Tetapi rupanya Inggris tidak membiarkan begitu saja perhitungan Turki menjadi nyata. Merasa terancam oleh gabungan kekuatan Turki-Jerman, Inggris menggunakan taktik yang cukup baik. Inggris mencium desas-desus pemberontakan yang terjadi di tanah Arab Jazirah. Motif nasionalisme –ingin mencari kemerdekaan dari pengaruh Turki-mewarnai pemberontakan ini. Hal ini dimanfaatkan oleh Inggris untuk menggalang kekuatan melawan Turki. Dua golongan yang sangat menonjol dalam pemberontakan ini adalah keluarga Ibn Saud yang bersekutu dengan ulama Wahhabi, dan keluarga Hasyim yang memerintah Mekkah (Ansary 2009: 471).
Seorang agen Inggris diutus untuk menemui kepala Saudi dan membuat kesepakatan. Mereka akan melakukan apa saja untuk membantu Saudi lepas dari cengkeraman Turki, termasuk mendukung uang dan senjata. Ibn Saud menjawab dengan hati-hati tetapi mengisyaratkan persetujuan atas kesepakatan tersebut. Maka, satu kekuatan berada di pihak Inggris.
Pemimpin Hasyimiyah adalah Hussein ibn Ali. Dia adalah penjaga Ka’bah dan dikenal dengan gelar Syarif, yang berarti dia adalah ketururnan dari klan Nabi, Bani Hasyim. Mekkah tidak cukup bagi Syarif Hussein. Dia memimpikan kerajaan Arab yang membentang dari Mesopotamia hingga ke Laut Arab. Dia berfikir bahwa Inggrismungkin akan membantu mewujudkan itu. Inggris pun membiarkan dia menyangka demikian, mereka mengutus seorang perwira intelijen militer untuk bekerja sama dengannya, seorang mantan arkeolog bernama Kolonel Thomas Edward Lawrence yang bias berbahasa Arab dan suka mengenakan pakaian suku Badui, sebuah praktik yang akhirnya membuatnya mendapat julukan ‘Lawrence of Arabia’ (Ansary 2009: 472).
Maka satu kekuatan lagi memihak Inggris. Pada waktu yang sama, saat dua agen Inggris membuat kesepakatan dengan dua keluarga Arab, dua diplomat Eropa, Mark Sykes dari Inggris, dan Francois George Picot dari Prancis, sedang duduk bersama sembari memegang pensil dan peta. Mereka tengah membagi-bagi wilayah kemenangan Perang Dunia I nantinya. Mereka membagi daerah mana yang akan menjadi milik Inggris, mana untuk Prancis, dan yang sedikit untuk Rusia. Anehnya, tidak disebut juga bagian yang dijanjikan untuk dua keluarga Arab Jazirah. Pembagian wilayah ini dikenal dengan Perjanjian Sykes-Picot dan terjadi di tahun 1916 saat Perang Dunia I belum usai. Menurut perjanjian ini, Prancis akan menguasai secara langsung Syiria bagian barat, Damaskus, Aleppo dan Mosul. Inggris akan menguasai Iraq dan sepanjang wilayah perbatasan Mesir hingga Arabia bagian timur. Area kecil di Jaffa dan Jerusalem akan menjadi wilayah internasional di bawah pengaruh Inggris, Prancis dan Rusia. Satu-satunya wilayah yang tersisa bagi orang-orang Arab adalah area Arab padang pasir (Goldschmidt 1979: 184).
Yang perlu diperhatikan lagi di sela-sela Perang Dunia I adalah imigrasi Yahudi dari Eropa ke tanah Palestina. Anti-semitisme di Eropa yang membantu menimbulkan Zionisme, semakin intensif seiring bergeraknya benua itu ke arah perang, membuat hidup semakin tidak dapat ditangguhkan lagi bagi orang-orang Yahudi di seluruh Eropa. Akibatnya, penduduk Yahudi di Paestina membengkak dari 4% pada tahu 1883, menjadi 8% pada awal Perang Dunia I dan mencapai 13% di akhir Perang Dunia I (Ansary 2009: 475).
Tahun 1918, Jerman menyerah tanpa syarat kepada Inggris dan sekutunya. CUP kehilangan segala yang dimiiki Turki Utsmani di luar Asia Kecil. Termasuk di dalamnya, wilayah Palestina lepas dari tangan Turki. Pemimpin CUP ditangkap dan dibunuh setelah masing-masing berhasil melarikan diri.
Bersambung... (Deklarasi Balfour-Bagian 2)

Referensi:
Ansary, Tamim. (2009). Dari Puncak Baghdad: Sejarah Dunia Versi Islam. Jakarta: Zaman.
Goldschmidt, Arthur. (1983). A Concise History of The Middle East. Egypt: The American University in Cairo Press.
Yahya, Harun. (2003). Palestine. New Delhi: Islamic Book Service.

Komentar

Postingan Populer

Berita

Wawasan

Kegiatan