PM Israel Disambut Unjuk Rasa di Inggris

Sekitar 300 pengunjuk rasa mengibarkan bendera dan spanduk bertuliskan "Bebaskan Palestina" di pusat kota London pada Rabu, atau bertepatan dengan kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Inggris dalam dua hari ini.

Bentrokan dengan polisi sempat terjadi saat para demonstran berupaya mendesak ke jalan utama di depan pemukiman Downing Stret, di mana Perdana Menteri Inggris David Cameron akan menggelar perundingan bersama Netanyahu pada Kamis pagi waktu setempat.

Selain unjuk rasa, sebanyak 107.000 warga Inggris telah menanda tangani petisi online agar Netanyahu ditangkap terkait tudingan kejahatan perang yang dilakukan saat konflik Israel dan Hamas meletus di Gaza pada tahun lalu.

"Kami berada di sini karena kami ingin agar Netanyahu membayar semua kejahatan perang yang dia lakukan. Kami berada di sini untuk berunjuk rasa dan ingin memberi tahu dia bahwa Netanyahu tidak diterima dengan baik di negara kami," kata seorang mahasiswa berusia 21 tahun, Marion Tehami.

Sementara itu tidak jauh dari tempat demonstrasi yang diikuti Tehami, sekitar 50 pengunjuk rasa pro-Israel mengibarkan bendera negara Yahudi tersebut.

Pemerintah Inggris sendiri sudah menegaskan bahwa kepala negara yang berkunjung mempunyai hak imunitas dari proses hukum dan oleh karena itu tidak bisa ditangkap dengan tuduhan apapun.

Dalam sebuah pernyataan tertulis, pemerintah Inggris menyatakan pada Selasa bahwa "kami menyadari bahwa konflik di Gaza pada tahun lalu telah menimbulkan korban dengan jumlah yang sangat mengerikan." "Namun demikian, perdana menteri sudah menegaskan bahwa Kerajaan Inggris mengakui hak Israel untuk mengambil tindakan proporsional demi membela diri, dengan batasan yang sesuai dengan hukum kemanusiaan internasional," demikian pernyataan pemerintah setempat.

Konflik di Gaza pada tahun lalu telah menewaskan lebih dari 500 anak di antara 2.100 korban meninggal dari pihak Palestina. Sebagian besar di antara mereka adalah warga sipil.

Sementara itu dari pihak israel, 73 orang juga menjadi korban dan hampir semuanya merupakan tentara.
Sumber : beritasatu.com

Komentar

Postingan Populer

Berita

Wawasan

Kegiatan