Hubungan dengan RI Terus Berkembang

Hubungan Palestina dengan Republik Indonesia, yang kebanyakan penduduknya beragama Islam, dewasa ini terus berkembang. Demikian pernyataan Duta Besar Palestina Abdel Hafiz Nofal kepada Gatranews pada jumpa pers di Moskow (24/8).

Duta Besar mengatakan, bahwa banyak peziarah ke Palestina setiap tahun datang dari Indonesia, Malaysia dan lain negeri Asia Tenggara. Menurut jumlhanya mungkin Indonesia memilki tempat kedua atau ketiga di dunia. "Kami akan tetap mengembangkan hubungan-hubungan kita dengan Indonesia," kata Abdel.

Seperti diketahui, dalam acara Konferensi Asia Afrika beberapa waktu silam, Presiden Joko Widodo sempat menggambarkan rencana pemerintah untuk mempererat hubungan kedua negara. Jokowi mengatakan, Indonesia mungkin akan membuka konjen, meningkatkan perdagangan bahkan juga mengadakan pelatihan karyawan Palestina. Abdel menyatakan belum memiliki sesuatu data mengenai hal itu. Tetapi akan segera ditindaklanjuti.

Masalah penyelesaian Palestina

Menjawab pertanyaan Gatra mengenai kehehendak Palestina mengganti format penyelesaian masalah Palestina, yaitu mengganti format perundingan 4+1 menjadi 5+1. Format yang terakhir ini melibatkan negara Palestina, Rusia, Amerika Serikat, Cina, Inggris dan Perancis, yang pernah digunakan untuk menyelesaikan masalah Iran.

Duta Besar mengatakan, bahwa presiden Mahmud Abbas memajukan prakarsa penting, yaitu bahwa format Iran dapat berguna baik untuk memerangi ISIS maupun dalam penyelesain Palestina. Sudah ada kesepakatan Amerika-Rusia agar dalam format itu ikut serta Iran, Arab Saudi, Mesir, Turki.

Menurut Dubes maka Amerika Serikat menyerahkan kepada pimpinan Palestina suatu dokumen dimana dikatakan, bahwa penyelesaian masalah Palestina harus bertolak dari keadaan Palestina dalam perbatasan 4 Djuni tahun 1967. Sayangya, catat Dubes, dalam dokumen itu tidak tercantum masalah pengungsi.

Menyangkut soal anjuran Sekjen PBB Ban Ki-moon mencabut blockade sector Gaza, maka Dubes menerangkan, bahwa aksi itu akan terus berlanjut, karena dianggap Israel masalah penting bagi Amerika Serikat. "Blokade itu membuat orang Palestina menderita, harus dihapus," katanya.

Dubes menambahkan, bahwa di tepi Barat sungai Yordan daerah seluas 5000km2, yaitu 62% teritori berada dibawah kontrol Israel, sedangkan yang pada daerah restannya 2000 km2 ditempatkan 615 pos control pengawasan Israel. Di sini sudah ada 600.000 pemukim dan akan sangat berbahaya bagi mereka," tutur Abdel.

Menyangkut soal penyelesaian masalah legitimisasi sepenuhnya Palestina di PBB, maka Dubes menerangkan bahwa sebab karena proses perundingan dengan Israel selama 20 tahun, macet, tidak membawa sesuatu hasil. Maka pimpinan Palestina memutuskan menggelar dalam batas waktu sebulan Kongres Dewan Nasional agar mengerjakan strategi baru penyelesaian.

Sudah sebelas anggota Komite Eksekutip Organisasi Pembebasan Palestina termasuk pemimpinnya Mahmud Abbas telah mengundurkan diri. Dubes menyebut pengunduran itu sebagai tindakan teknis saja.

Kongres Dewan Nasional Palestina, adalah badan kekuasaan tertinggi yang terdiri dari 765 wakil rakyat Palestina, tidak saja dari tanah Palestina, tetapi dari tanah yang diduduki, akan digelar di Amman atau di Ramalah sebelum 22 September. Pada Kongres itu akan terpilih 18 anggota pimpinannya pimpinannya.

Namun Hamas dan Jihad Islam tidak diikutsertakan. Tujuannya tidaklah pemilihan anggota baru saja. "Kami menginginkan agar pendekatan baru digunakan dalam bakal perundingan dengan Israel. Sudah barang tentu, Mahmud Abbas yang tetap presiden Palestina akan tampil dengan mandat baru pada Sidang MU PBB mendatang," katanya lagi.
Sumber : www.gatra.com

Komentar

Postingan Populer

Berita

Wawasan

Kegiatan