Wabah Tifus Mengancam Pengungsi Palestina di Suriah

Dikutip dari Al Arabiya, Christopher Gunness, juru bicara UNRWA, mengatakan stafnya mendapatkan akses ke Yalda, wilayah di timur kamp Yarmouk yang menampung imigran Palestina dan warga Suriah, untuk pertama kalinya sejak 8 Juni dan berhasil mendirikan fasilitas kesehatan keliling.

Dalam sebuah laporan, URNWA mengatakan bahwa personel kesehatannnya memberikan 211 konsultasi di Yalda pada Selasa (18/8), dan mengkonfirmasi enam kasus tifus.

Namun UNRWA juga mendapat laporan terkait kasus tifus di wilayah lain di Yarmouk selain Yalda, yakni Babila dan Beit Sahem.

UNRWA mengatakan mereka berwenang untuk memberikan bantuan kesehatan terbatas serta pasokan air, sanitasi dan kebersihan kepada masyarakat.

Menurut Pusat Kontrol Penyakit dan Pencegahan Amerika Serikat, tifus adalah penyakit yang dapat mengancam jiwa yang disebabkan bakteri Salmonella Typhy yang menyebar lewat makanan dan air minum yang terkontaminasi.

Tifus biasanya diobati dengan antibiotik, namun dapat berakibat fatal jika tidak ditangani tanpa pengobatan.

Komisaris Jenderal UNRWA, Pierre Krahenbuhl, mengatakan pada Juni bahwa sebelum perang Suriah pada 2011, terdapat 160 ribu imigran Palestina yang tinggal di kamp Yarmouk, dan banyak dari mereka memiliki pekerjaan.

Sebelum ISIS masuk ke kamp itu pada awal April tahun ini, terdapat 18 ribu imigran. Namun, setelah ISIS masuk, ribuan imigran melarikan diri dan PBB tidak mendapatkan akses masuk ke kamp tersebut.

"Prioritas UNRWA adalah memberikan bantuan kemanusiaan kepada warga sipil di dalam kamp Yarmuk itu sendiri," ujar Gunnes.

Badan PBB untuk imigran Palestina, UNRWA, mengatakan bahwa wabah tifus mengancam warga sipil di kamp imigran Palestina di ibu kota Suriah, Damaskus. Sejauh ini, enam orang dikonfirmasi terjangkit virus itu.
Sumber : www.cnnindonesia.com

Komentar

Postingan Populer

Berita

Wawasan

Kegiatan