Israel Terapkan 'Apartheid Air', Warga Palestina Menderita

Pemerintah Israel mengumumkan akan membangun 300 rumah baru di permukiman Yahudi di Tepi Barat pada Rabu (29/7). Rencana ini tidak ayal akan semakin menambah penderitaan warga Palestina yang hak-haknya dibatasi di tanah yang dicaplok Israel.

Menurut studi lembaga Oxfam awal bulan ini, permukiman Yahudi terutama di Lembah Jordan di Tepi Barat telah menghancurkan perekonomian warga Palestina.

Studi menunjukkan, selama ini saja, Palestina bisa mendapatkan pemasukan tambahan US$1,5 miliar per tahun jika Israel tidak menerapkan pembatasan menggunakan lahan, air dan pergerakan warga di wilayah dekat permukiman.

Laporan Oxfam menyebutkan bahwa warga Palestina hanya boleh menggunakan 6 persen tanah di wilayah itu, sementara pemukim yang berjumlah 13 persen dari populasi telah menguasai 86 persen lahan.

Akibatnya, tingkat kemiskinan warga Palestina di Lembah Jordan hampir dua kali lipat dibanding bagian lainnya di Tepi Barat.

Sekitar 500 ribu warga Yahudi tinggal di lebih dari 100 permukiman yang dibangun sejak pendudukan Israel di Tepi Barat dan Yerusalem Timur sejak tahun 1967. Pembangunan itu dianggap ilegal berdasarkan hukum internasional dan menjadi batu sandungan perundingan dengan Palestina, namun Israel tetap membandel.

Sumber daya yang paling penting bagi kehidupan manusia di permukiman itu, yaitu air, dikuasai oleh Israel. Oxfam mengatakan, Israel mengalokasikan seluruh air di Lembah Jordan untuk 28 permukiman Yahudi di wilayah sepanjang 120 km dan lebar 15 km itu.

Berbagai lembaga mengatakan bahwa Israel menggunakan pembatasan air untuk mengendalikan warga Palestina. Sementara Palestina kekurangan air, warga Yahudi di permukiman bisa mengaksesnya tanpa batas.

Lembaga HAM Palestina Al-Haq tahun 2013 lalu mengeluarkan penelitian yang menunjukkan timpangnya konsumsi air di wilayah permukiman.

Konsumsi air oleh 500 ribu pemukim Yahudi di permukiman enam kali lebih banyak ketimbang 2,6 juta warga Palestina di Tepi Barat.

Selain itu, masih menurut penelitian ini, konsumsi air rata-rata warga Palestina yang hanya 73 liter per kapita per hari, masih jauh dari konsumsi minimal air yang direkomendasikan WHO, yaitu 100 liter.

"Warga Israel yang hidup di dalam Israel menggunakan 300 liter air dan pemukim Israel di Tepi Barat menggunakan 369 liter air per hari," tulis laporan Al-Haq.

Pada September 2011 bahkan, sekitar 313 ribu warga Palestina tidak punya akses ke saluran air. Dan sekitar 50 ribu warga Palestina hidup dengan kurang dari 20 liter air per hari, masuk dalam kategori WHO "alat bertahan hidup jangka pendek" untuk situasi darurat dan bencana.

Hal yang sama juga terjadi di Jalur Gaza yang hanya mengandalkan air dari sumber alami Coastal Aquifer. Namun Gaza hanya mendapatkan sepertiga dari total air yang diproduksi karena dikuasai Israel.

Praktik yang disebut sebagai "apartheid air" ini juga diungkapkan oleh laporan Komisi Hubungan Luar Negeri Perancis pada tahun 2012.

Dalam laporan itu disebutkan bahwa Israel telah menjadikan air "senjata bagi apartheid baru".

"Sekitar 450 ribu pemukim di Tepi Barat menggunakan air lebih banyak ketimbang 2,3 juta warga Palestina di sana. Di saat kekeringan, bertentangan dengan hukum internasional, pemukim mendapatkan prioritas air," tulis laporan yang digagas oleh anggota parlemen Jean Glavany dari Partai Sosialis.

Laporan parlemen Perancis ini membuat berang Israel yang mengatakan bahwa ini bisa berujung pada kerusakan hubungan diplomatik kedua negara.

Komentar

Postingan Populer

Berita

Wawasan

Kegiatan