Bentrok dengan Tentara Israel, Belasan Warga Palestina Terluka

Sedikitnya 14 orang Palestina cedera dalam bentrokan dengan tentara Isrel di dekat kamp pengungsi Qalandia antara Jerusalem dan Kota Ramallah di Tepi Barat Sungai Jordan.

Beberapa saksi mata mengatakan bentrokan meletus selama pemakaman Mohamed Abu Latifa, pemuda Palestina yang berusia 20 tahun dan tewas di satu kamp pengungsi ketika Angkatan Bersenjata Israel menyerbu rumahnya dalam upaya menangkap dia.

Saksi mata mengatakan ratusan orang menghadiri pemakaman itu, dan puluhan pemuda berkumpul di dekat pos pemeriksaan Israel dan melempar batu serta botol kosong ke arah tentara.

Tentara Israel melepaskan tembakan balasan ke arah demonstran yang marah. Enam pemuda cedera terkena peluru aktif dan delapan lagi terkenal peluru logam yang dibungkus karet.

Ambulans membawa korban ke rumah sakit dan klinik medis di Kota Ramallah, tempat puluhan orang menghirup gas air mata setelah tentara menembakkan puluhan tabung gas air mata ke arah orang Palestina yang melempar batu, kata petugas medis Palestina.

Abu Latifa adalah orang Palestina ketiga yang tewas oleh tentara Israel di Tepi Barat dalam waktu beberapa hari belakangan. Dua orang Palestina tewas awal pekan ini di Kota Jenin dan Al-Khalil (Hebron) di Tepi Barat.

"Cerita Israel bahwa putra saya meninggal setelah ia melompat dari atap rumah kami ke tanah tidak benar. Tentara menembak dia sebanyak enam kali di kakinya padahal tangannya diborgol," kata ayah Mohamed Abu Latiga, Atta Abu Latifa dilansir Xinhua Selasa (28/7).

Ia menambahkan tentara Israel beberapa kali berusaha menangkap dia sebelumnya dan sekali ini mereka menembak dia dan membiarkan ia mengeluarkan darah sampai ia meninggal.

Jamal Lafi, pejabat di Komite Rakyat di kamp pengungsi tersebut, mengatakan bahwa Mohamed Abu Latifa tewas oleh tembakan seorang tentara Israel setelah tentara Israel menyerbu rumahnya untuk menangkap dia di kamp pengungsi itu.

Seorang pejabat senior Palestina pada Senin pagi memperingatkan peningkatan aksi kekerasan oleh Israel terhadap rakyat Palestina akan memaksa pemimpin mereka mengambil keputusan penting.

"Upaya tanpa henti Israel untuk merusak upaya mempertahankan kestabilan daerah tersebut atau menghidupkan kembali proses perdamaian akan menimbulkan konsekuensi serius," kata Nabil Abu Rdeinah, seorang pembantu Presiden Palestina Mahmoud Abbas.
Sumber : Republika.co.id

Komentar

Postingan Populer

Berita

Wawasan

Kegiatan